Unforgettable “Semalam di Minahasa”

Published
12/27/2010 by

May 24, 2002
Catatan Michael Umbas


LOS ANGELES --- Tarian Cakalele tiba-tiba menghentak di hall Ontario Convention Center, Los Angeles (LA), California, Sabtu petang pekan lalu. Barisan penari berkostum merah lengkap dengan atribut perang menyeruak di tengah kerumunan. Wajah sangar dan teriakan panglima perang dengan pedang terhunus membuat penonton memasang mata. Atraksi ini lantas menarik perhatian pengunjung.

Tarian yang merupakan ciri khas Minahasa itu menjadi pemandangan tersendiri pada acara bertajuk “Semalam di Minahasa”, yang digelar Kawanua USA di Los Angeles, pekan lalu. Ritual budaya yang disuguhkan untuk menyambut tamu itu diperankan oleh warga Kawanua di Los Angeles sebaik mungkin Ada sekitar 2000 warga Minahasa memadati Ontario Convention Center, dalam rangka memperingati HUT ke III Kawanua USA.


Tampak dalam acara itu Gubernur Sulut Drs AJ Sondakh, Konjen RI Los Angeles Aang Yamani, Deputi Menko Ekuin Firman Tamboen dan Ridzali Kasri dari perwakilan kantor BKPM, mantan Gubernur Sulut EE Mangindaan, serta Putri Indonesia Angelina Sondakh. Suasana Minahasa benar-benar membungkus ruangan, tatkala semua acara yang disuguhkan benar-benar bernafaskan nilai-nilai budaya Minahasa.

Penataan panggung pun mencirikan keadaan Minahasa, seperti lukisan pohon kelapa yang berderet dalam tata artistik namun menggambarkan representasi tanah Minahasa di negeri yang terkenal dengan slogan “God Bless America”.Tak heran jika para pengunjung menaruh antusias.”Ini butul-butul torang sama deng di kampung,” ujar Johny Kussoy yang kurang lebih 13 tahun tinggal di Amerika.

Acara dimulai dengan lagu adat berjudul “Opo Wananatas”, lagu ini pujian kepada Tuhan yang dulu sering dibawakan oleh Tonaas dan leluhur Minahasa. Mereka mengagungkan Sang Pencipta dan mensyukuri segala berkatnya. Hal yang sama kurang lebih dialami warga Kawanua USA di LA.

Menghadirkan “Minahasa” di LA memang ibarat oase yang telah lama dirindukan warga imigran yang telah lama bermukim di sini. Acara ini pun tak hanya menjadi milik warga Minahasa di LA saja, tapi menjadi ajang pertemuan bagi ribuan kawanua overseas, yang tersebar di USA, seperti New Jersey, New York, Washington DC, New Hampshire, bahkan luar USA seperti Belanda, Perancis, Jerman, Kanada, Australia.


Mulai dari Cakalele, Maengket, musik kolintang, hingga atraksi Poco-poco dan tak kalah menarik pemilihan Nyong dan Nona Kawanua USA. Para peserta pemilihan rata-rata siswa higschool yang tak bisa lagi berbahasa Indonesia dengan baik namun bangga mengaku sebagai orang Minahasa.”I am glad to be a Minahasan, and I will promote Minahasan as a potensial place in tourism and investment,” ujar salah seorang keke (sebutan gadis Minahasa) yang menjadi peserta.

Acara makin semarak, dan para pengunjung makin bertambah. Panitia terpaksa kelimpungan karena kapasitas ruangan tidak bisa menampung lagi para pengunjung. Konsekwensinya, para petugas sekuriti menolak pengunjung masuk dengan alasan keamanan. SH yang kebetulan sempat keluar, dicegat ketika hendak masuk lagi oleh petugas sekuriti bule. Begitu diberi tahu pers, baru dikasih masuk. Yang lainnya tidak ada kompromi.”Inilah Amerika,” celetuk seorang pengunjung yang tak bisa masuk.

“Semalam di Minahasa” bagi ribuan pengunjung tak ubahnya perjalanan sejarah untuk menuju nostalgia kampung halaman. Meski telah hidup makmur di negara orang, Minahasa tetap melekat di hati. Ada banyak pengunjung yang tak kuasa menahan airmata ketika mendengar sambutan Gubernur Sulut Drs AJ Sondakh. Mereka terharu bisa melihat pemimpin mereka, yang dianggap sebagai orang tua yang datang menjenguk anaknya.“Saya sudah 20 tahun di Amerika, tapi tidak bisa melupakan tanah Minahasa. Kami bahagia sekali bisa bernostalgia di sini,” tukas seorang ibu yang meski berpakaian ala Amerika namun guratan wajahnya tetap menunjukkan keaslian sebagai perempuan Minahasa.

Gubernur Sondakh dengan gaya bicara santai mengajak warga kawanua untuk membangun daerah. Ia mengaku bangga dengan kehadiran warga Minahasa di USA. Hanya saja, semakin banyak warga Minahasa yang datang ke USA, makin banyak SDM potensial yang meninggalkan daerah.”Lantas sapa lagi yang mo ta tinggal,” ujar Sondakh.

Tak urung Konjen RI yang hadir pada saat itu, ikut membaur dan mengklaim diri dekat dengan Minahasa. Di atas panggung, ia bercerita dengan menggunakan dialek Manado.”Mari jo torang ba pesta do’e,” cetus Aang Yamani dan disambut tepuk tangan hangat.

Aang mengaku, dari ribuan warga Minahasa yang tersebar di sejumlah distrik di LA, merupakan warga yang taat dan pekerja keras. Meski sudah lama berada di negara orang, mereka tetap masih berpijak pada prinsip-prinsip kebudayaan.

Setelah itu, Angelina Sondakh, Putri Indonesia yang juga tampil dalam acara itu berdiri anggun di atas panggung. Suasana sempat hening, menunggu Angie –panggilan akrabnya—berbicara. Gadis cantik asal Kanonang itu pun bercerita tentang usahanya yang keras hingga dapat meraih mahkota Putri Indonesia 2001.”Dulu pada waktu pemilihan Putri Indonesia, tidak sebanyak ini. Ternyata banyak sekali saudara-saudara saya dari Minahasa di LA,” ujarnya.

Angie mengaku bangga bisa menjadi representasi keke Minahasa untuk mengemban tugas sebagai Putri Indonesia. Ia sekaligus menepis isu bahwa wanita Minahasa hanya bisa menonjolkan kecantikan outside saja.”Kecantikan dari luar saja tidak cukup, tetapi yang terpenting dari dalam. Itulah perempuan Minahasa sesungguhnya,” katanya.

Malam kian larut, dan Semalam di Minahasa benar-benar malam yang indah. Setidaknya wajah-wajah yang tergambar bahagia dari warga Kawanua. Malam yang tak terlupakan.***