Tukar Gagasan Indonesianis dan Akademisi Indonesia dalam Konferensi di Universitas Cornell

Published
10/18/2010 by

Para akademisi dan peminat studi mengenai Indonesia (Indonesianis) dari berbagai universitas di kawasan Timur Laut Amerika Serikat  berkumpul dan bertukar gagasan dalam Cornel-Yale Fifth Biannual Conference on Indonesia di Universitas Cornell, Ithaca, Sabtu (16/10).

Para peserta konferensi yang diselenggarakan oleh Program Kajian Asia Tenggara pada Univesitas Cornell dan Yale ini adalah mahasiswa, peneliti, maupun pengajar dari Universitas Columbia, Universitas Yale, Unversitas Brown, Universitas Wesleyan, Universitas Boston, Uninversitas Fairfield, Sekolah Pendle Hill Friends, dan Universitas Cornell. Bukan hanya asal universitas yang beragam, bidang studi yang ditekuni juga sangat bervariasi dari mulai bahasa, sejarah, ekonomi, sains, teknik, lingkungan, politik, hingga hubungan internasional.

Para Indonesianis juga berasal dari berbagai negara seperti AS, Belanda, Belgia, China, Korea, dan Singapura. Presentasi dan diskusi dalam konferensi ini dilakukan dengan menggunakan dua bahasa, yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.  Terlihat bahwa para Indonesianis sangat fasih menggunakan Bahasa Indonesia dalam presentasi maupun sesi tanya jawab. Umumnya para Indonesianis tersebut telah cukup lama mendalami kajian Indonesia dan pernah berkunjung  bahkan tinggal di Indonesia.

Konferensi yang berlangsung di gedung Kahin Center selama satu hari penuh ini dibagi dalam tiga panel yaitu panel mengenai Keragaman Indonesia, Sains dan Lingkungan Hidup, serta Pemerintahan dan Agama.

Pada sesi mengenai Keragaman Indonesia, para peserta berdiskusi  mengenai kebijakan dan hasil pembangunan manusia (human development) Indonesia, pengembangan kerjasama antar pengajar Bahasa Indonesia untuk penutur asing,  serta upaya peningkatan kerjasama  dalam bidang pembangunan berkelanjutan antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Sementara itu, topik mengenai ketahan energi Indonesia, daya saing Indonesia di tingkat kawasan dan dunia, serta potensi peran pekerja sosial dalam penanggulangan bencana menjadi fokus diskusi pada panel kedua mengenai sains dan lingkungan hidup.

Dala sesi ketiga mengenai pemerintahan dan agama, para peserta berdiskusi mengenai pesantren dan modernisasi, perilaku politik organisasi Islam modernis di Indonesia, serta peran Indonesia dalam  pengembangan arsitektur regional di Asia Pasifik.

Pada akhir konferensi para peserta sepakat untuk terus menggulirkan kegiatan konferensi ini serta terus memperluas jejaring antara akademisi dan peminat studi mengenai Indonesia.

Konferensi Timur Laut ini merupakan kegiatan rutin dua kali dalam setahun yang pertama kali digagas oleh dua orang pengajar Bahasa Indonesia pada Program Kajian Asia Tenggara pada Univesitas Cornell dan Yale pada tahun 2007. Tempat penyelenggaraan konferensi bergantian antara Universitas Cornell dan Yale. Konferensi ke-6 direncanakan diselenggarakan di kampus Universitas Yale di New Haven pada bulan Februari 2011. ***